A. B. Zuhair*)
Sejak
awal millennium ini, khususnya di Indonesia sering kita dengar tentang
munculnya kembali beberapa orang yang mengaku dirinya sebagai nabi, atau
sering kita menyebutnya dengan nabi palsu (mutanabby). Dan obyek dakwah
mereka tak lain adalah kalangan awam Muslimin yang tampaknya begitu
mudah tertarik dan bahkan sampai mengunggulkan ajaran mereka daripada
ajaran Alquran dan Sunnah Muhammadiyah. Fenomena ini
sungguh mengejutkan, mengingat Indonesia dikenal sebagai Negara dengan
penduduk muslim terbesar di dunia. Ataukah mungkin ini menunjukkan masih
lemahnya kepedulian para pemimpin kita terhadap kemurnian agama
terbesar bangsanya?
Sebagai
contoh, kasus Lia Aminuddin (Lia Eden) yang telah lama mempropagandakan
kenabiannya dengan dalih dirinya telah mendapat informasi dari "jibril"
yang membawa wahyu yang subtansinya adalah mencampur aduk ajaran Islam
dan Nasrani. Bahkan nabi palsu perempuan ini berani mendokumentasikan
rangkaian komukasinya dengan "jibril" dalam cetakan buku tebal kemudian
di sebarkan kepada para Kiai Pesantren sebagai salah satu strategi di'ayahnya (pengakuannya).
Meskipun akhirnya Pemerintah telah menghentikan aktivitas Lia Aminudin
dan pengikutnya, tapi sikap Pemerintah terhitung lamban karena
pemberhentian tersebut terjadi setelah beberapa tahun dari munculnya
pengakuan sang nabi perempuan palsu tersebut. Kasus yang lebih besar
lagi adalah golongan Ahmadiyah yang sedang marak lagi belakangan ini,
setelah pada tahun 1980 MUI telah memfatwakan kesesatan mereka. Sehingga
MUI terpaksa menegaskan kembali fatwa kesesatan aliran dari bumi
Hindustan tersebut pada tahun 2005. Juga kasus-kasus lainnya yang
terjadi di pelosok Nusantara yang anehnya para nabi palsu itu masih saja
mendapatkan pengikut dari kalangan awam Muslimin yang begitu mudah
terbujuk di'ayah mereka.
Menelusuri
kasus-kasus nabi palsu tersebut tak ayal membawa kita sampai pada
kesimpulan pertanyaan, apakah yang telah terjadi dalam dasar keimanan
kalangan awam Muslimin Indonesia, sehingga membuat mereka mudah
terpengaruh ajakan nabi-nabi palsu itu? Mungkin untuk jawaban yang
komplit pada pertanyaan ini perlu terjun lapangan langsung di tempat
bermunculannya nabi-nabi palsu. Namun penulis yakin di antara jawaban
komplit itu ada satu point penting yang tidak bisa kita remehkan. Point
tersebut adalah hilangnya sosok mulia dan agung Muhammad 'alaihis sholatu was salam
di dalam jiwa mereka yang seharusnya terpatri dalam kalbu setiap
Muslim. Jika kita lihat ajaran-ajaran yang dipropagandakan para
mutanabby tarsebut memang masih mengatasnamakan Islam dan iman kepada
Allah subhanahu wa ta'ala, tetapi ajaran-ajaran itu tak satupun yang menghadirkan kembali kesempurnaan makna syahadat yang kedua yaitu syahadatu anna Muhammadan rosulullah. Padahal para Rasul sebelum Nabi Muhammad 'alaihis sholatu was salam
selalu membawa kabar tentang kehadiran Nabi dan Rasul terakhir dan
menyebutkan ciri-ciri kenabian terakhir secara jelas. Bahkan sebagaimana
Abdullah bin Salam radiyallahu 'anhu katakan, "Kami Ahlul Kitab
lebih mengenal sifat Rasulullah terakhir ini dari pada sifat anak
kandung kami sendiri,". Dan telah diterangkan dalam permulaan kitab Fathul Mu'in dan Busyrol Karim,
bahwa di antara pelajaran pertama kali (bahkan sebelum pelajaran tata
cara sholat) yang harus ditanamkan oleh orang tua kepada anaknya adalah mengenal pribadi Rosulullah Muhammad 'alaihis sholatu was salam dan
pokok sifat-sifat mulianya juga mengenai risalah dan nubuwwahnya
sebagai penutup risalah dan nubuwwah para Nabi sebelumnya. Maka tak
heran jika di antara umat Islam sekarang yang telah melupakan pelajaran
dasar Islam sejak usia dini telah merasa asing dengan sosok Muhammad 'alaihis sholatu was salam.
Setelah
kita menyadari kekurangan Awam Muslimin di atas, maka di perlukan
gerakan restorasi yang harus kita tanggung bersama. Dan tentu saja salah
satunya adalah menghadirkan dan mengenalkan kembali sosok yang
seharusnya menjadi panutan umat Islam bahkan umat manusia, yaitu
Muhammad 'alaihis sholatu was salam. Karena hanya dengan mengikuti langkahnya kita dapat beribadah dengan benar kepada Allah 'azza wa jalla. Sebagaimana Allah 'azza wa jalla berfirman :
قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم (آل عمران : 31)
Artinya:
Katakanlah (wahai Muhammad) "Apabila kalian benar-benar mencintai Allah
maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu pula dan mengampuni
dosa-dosa kalian."
Dan bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi Muhammad 'alaihis sholatu was salam,
kita jadikan bulan Rabi'ul Awwal ini sebagai bulan pencerahan dan
pembaharu cinta kita kepada beliau. Karena Umat Islam harus menyadari
bahwa Muhammad 'alaihis sholatu was salam adalah rahmat terbesar yang diturunkan Allah kepada alam semesta, sebaimana ayat :
وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين (الأنبياء : 107 )
Artinya: "Dan Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam".
Kemudian Allah juga telah mengajarkan kepada kita untuk selalu bersyukur atas segala rahmat dan ni'mat yang diturunkan Allah kepada kita :
لئن شكرتم لأزيدنّكم ولئن كفرتم إنّ عذابي لشديد (إبراهيم : 7)
Artinya: "Sesungguhnya
jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu,
tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka azab-Ku sangat berat".
قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا , هو خير مما يجمعون (يونس : 58)
Artinya: "Katakanlah
(Muhammad), "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu
mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulakan."
وأما بنعمة ربّك فحدّث (الضحى : 11)
Artinya: "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).
Maka
selayaknya kita wajib mensyukuri karunia terbesar, yaitu diutusnya
Muhammad 'alaihis sholatu was salam kepada kita, sehingga kita menjadi
pengikutnya yang digelari sebagai khoiru ummah".
Adapun
bentuk syukur sangatlah bervariasi, dan tentunya yang paling utama
adalah mengikuti ajarannya dengan sepenuh hati. Akan tetapi adakalanya
kita memerlukan media yang bermanfaat untuk umum sebagai bentuk
kepedulian kita pada sesama dan realisasi program restorasi kita dalam
generalisasi mahabbah Rasul kepada setiap rekan, tetangga, dan
masyarakat umum. Kita menyadari saat ini masih banyak di lingkungan kita
yang belum mengenal betul siapakah Muhammad 'alaihis sholatu was salam, maka kita perlu berkreasi menarik minat mereka dengan media apapun agar mereka lebih mengenal hakikat Muhammad 'alaihis sholatu was salam selama media tersebut tidak bertentangan dengan syari'at. Sebagaimana pendapat mu'tamad Ulama Ushul Fiqh bahwa "Setiap perkara yang bermanfaat dan tidak berbenturan dengan nash syar'i maka hukumnya adalah boleh".
Sedangkan media tersebut tentu bisa bermacam-macam pula, seperti
pembacaan Sirah Rosul, kajian tentang da'wah muhammadiyah dan berbagai
media lainnya.
Dan sudah sangat maklum jika perayaan peringatan ini dikhususkan pada bulan Rabi'ul Awwal karena kelahiran Nabi Muhammad 'alaihis sholatu was salam terjadi pada bulan tersebut berdasarkan pendapat yang masyhur. Sebagaimana sunnah Nabi Muhammad 'alaihis sholatu was salam berpuasa pada hari senin karena mensyukuri hari kelahirannya tersebut, juga seperti disunnahkannya puasa 'asyura karena khusus memperingati kemenangan Nabi Musa 'alaihis salam dan kaumnya atas Fir'aun dan pasukannya. Jadi bukanlah pengkhususan ini berarti pula pengkhususan mahabbah rasul melebihi bulan-bulan lainnya, apalagi mengesampingkan ittiba' sunnah muhammadiyah
yang lebih penting. Tetapi kecintaan pada rasul haruslah bertambah
setiap hari dan ittiba' sunnah harus lebih digiatkan setiap waktu,
sedangkan peringatan maulid Rasul (dengan berbagai variasinya) adalah
sebuah tradisi kebudayaan positif dan islami yang dijadwalkan sesuai
dengan bulan atau hari kelahiran beliau 'alaihis sholatu was salam dan diharapkan mampu menjadi media penumbuh dan penambah cinta umat kepada Rasul mereka.
Bagaiamanapun
bentuk peringatan yang kita pakai haruslah didasari kecintaan kita pada
baginda Rasulullah dan menyebarkannya kepada sesama tanpa menjadikan
media tersebut sebagai bahan perdebatan kosong antar golongan yang tak
berujung, atau bahkan malah merubah bulan Rabiul Awwal sebagai bulan
puncak pergesekan antar umat yang semakin melemahkan kesatuan Islam dan
Muslimin, sehingga melupakan kita pada gerakan restorasi krisis umat
yang telah kita singgung sebelumnya. Dan tidak sepatutnya kita merasa
sebagai orang yang paling cinta kepada Allah dan Rasulnya tapi melupakan
cinta kepada sesama karena Allah, karena Rasulullah 'alaihis sholatu was salam telah menerangkan hubungan erat antara iman dengan tiga mahabbah. Sebagimana sabda beliau 'alaihis sholatu was salam, "Ada
tiga perkara yang bila berkumpul dalam pribadi seseorang maka ia
menemukan manisnya iman. Yaitu apabila Allah dan Rasul-Nya lebih ia
cintai daripada yang lainnya, dan jika ia mencintai seseorang yang tiada lain cinta karena Allah." Hadits muttafaq alaih.
Akhir kata, bulan Rabiul Awwal adalah awwal munculnya Manusia pilihan yang menunjukkan kita pada jalan keridloan Allah subhanahu wa ta'ala,
dan juga bulan yang lebih spesial dari bulan kelahiran kita. Maka
selayaknya kita bereuphoria dan mengajak saudara kita sesama muslim
untuk lebih mengenal hakikat Muhammad 'alaihis sholatu was salam
dan meletakkanya selalu terpatri dalam hati masing-masing sehingga tak
berpaling pada ajakan misionaris, mutanabby atau para pendusta lainnya. Wallahu a'lam.
Posting Komentar Blogger Facebook