Oleh : Zainal Fanani*
Selama ini masih sangat sedikit para sarjana Islam yang berkecimpung dalam
bidang kajian Al-Quran membahas tentang hakikat “cinta” yang terdapat dalam
Al-Quran. Sebagian besar karya-karya yang dihasilkan hanya berkutat pada ranah
akidah, syariat, keindahan, kemukjizatan, retorika Al-Quran, kisah-kisah, atau
sejarah yang terkandung di dalamnya. Padahal, cinta juga memiliki peranan yang
sangat penting dalam kehidupan individu dan masyarakat. Munculnya tindak
kekerasan dan terorisme juga disebabkan karena hilangnya rasa cinta kasih pada
diri manusia.
Hal itulah yang ternyata mendorong Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy
untuk menulis sebuah buku berjudul Al-Hubb fi Al-Quran wa Daurul Hubb
fi Hayatil Insan (Cinta dalam
Al-Quran dan Peranannya dalam Kehidupan Manusia). Dalam bukunya ini, Dr.
Al-Buthy—demikian beliau akrab disapa—mengajak kita untuk menggali Al-Quran
dalam menemukan rahasia mendapatkan cinta Ilahi. Tidak mudah memang, tetapi Dr.
Al-Buthy meyakinkan kita bahwa cinta-Nya bisa digapai dengan kekuatan nalar dan
hati sekaligus.
Buku yang ditulis oleh seorang ulama yang ceramahnya mampu menyebabkan
isak tangis ribuan jamah ini mengulas pandangan Al-Quran perihal cinta Allah
kepada manusia, cinta manusia kepada Allah, cinta manusia kepada sesama manusia,
dan peranan cinta dalam kehidupan manusia.
Menurut Dr. Al-Buthy, dalam
menafsirkan kata “cinta” harus merujuk kepada mazhab salaf. Yaitu dengan
menggabungkan antara makna yang terkandung dalam cinta dan upaya penyucian
Allah dari penyerupaan dengan makhluk. Tidak seperti pemahamannya para filosof
yang sangat dihindari oleh para ulama ahli tafsir.
Allah mencintai hambanya tidaklah semata-mata karena orang tersebut terjaga
dari perbuatan dosa. Akan tetapi, setiap pelaku maksiat yang mau bertobat dan
kembali ke jalan Allah juga akan menerima cinta-Nya. Hal ini bisa dilihat dari
keimanannya yang terus bertambah dari waktu ke waktu, lebih semangat dalam
menjalankan ibadah, dan selalu memperbanyak zikir kepada Allah.
Sedangkan cinta manusia kepada Allah dapat diwujudkan dengan tiga
perkara. Pertama, memperbanyak muraqabatullah (merasa diawasi
oleh Allah) dan berzikir kepada-Nya dengan menafakuri dan mengingat-ingat
nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Kedua, menjaga diri secara
maksimal untuk menjauhi makanan haram. Kerena, makanan haram yang dikonsumsi
akan menyebabkan pelakunya berperangai keras. Ketiga, duduk bersama-sama
orang saleh, menjauhi tempat-tempat orang fasik dan tempat-tempat kemaksiatan.
Buku yang ditulis dengan bahasa yang apik dan bernas ini juga memaparkan
gagasan toleransi yang bersumber dari Al-Quran. Di mana persaudaraan
antarsesama manusia kapan pun selalu berlangsung dan tak seorang pun
mengingkarinya, baik karena satu keyakinan maupun beda keyakinan. Adapun perintah
memerangi orang-orang kafir, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, bukan
semata-mata karena kekufuran mereka, tetapi karena mereka memerangi umat Islam
terlebih dahulu. Jihad sendiri hanya diperbolehkan jika memenuhi dua ketentuan:
menghindari serangan musuh atau membalas gempuran musuh.
Selain itu, dalam buku ini Dr. Al-Buthy juga menjelaskan pentingnya memiliki
rasa cinta kasih bagi seorang dai. Di mana dengan adanya cinta kasih inilah
yang nantinya akan melahirkan etika terhadap sesama hamba Allah. Bahkan kepada
seorang pelaku maksiat atau orang kafir sekalipun. Seorang dai harus bisa
membedakan antara pribadi pelaku dan kemaksiatan. Perihal maksiat, kita wajib
membenci dan menghindarinya. Sementara itu, pada pelaku maksiat, mestinya kita
menaruh simpati dan kasihan lantaran ia lemah dan terjerat. Begitulah tuntunan
Rasulullah dalam hal berhubungan dengan sesama, baik muslim maupun nonmuslim.
Autokritik yang amat tajam juga tidak terlewatkan dalam bahasan buku
ini. Di mana dalam menjelaskan peranan cinta dalam aktivitas dakwah, Dr.
Al-Buthy mengkritisi praktik-praktik ajaran tarikat yang telah melenceng dari
syariat Islam. Dan cenderung memaksakan (takalluf) dalam menenamkan rasa
cinta di hati para pengikut tarikat tersebut.
Secara garis besar buku ini sangat bermanfaat dalam rangka
mengampanyekan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Dengan
hadirnya karya ini diharapkan mampu menepis stereotype terhadap Islam yang
tengah berkembang selama ini.
Kelebihan lain dari buku ini, Dr.
Al-Buthy tidak hanya mampu menulis buku ini secara ilmiah. Akan tatapi, ia juga
dapat merepresentasikan isi buku ini dalam tutur kata dan perilakunya yang
santun. Karena bagaimanapun, secara psikologis, masyarakat Indonesia memerlukan
kedalaman dan keteladanan sekaligus. Inilah buku penyejuk dahaga sekaligus
pelita bagi yang mendamba cinta dan kasih sayang-Nya.
*Mahasiswa tingkat
akhir Al-Ahgaff University, Hadhramaut-Yaman. Kepala Departemen Pendidikan dan
Dakwah DPW Hadhramaut PPI Yaman, dan co-author buku Kodifikasi Interdisipliner.

i like this....
BalasHapusThe 5 best casino apps and apps for Android, iPhone and iPad
BalasHapusThe 5 best 이천 출장마사지 casino apps 포천 출장샵 and apps for Android, iPhone and iPad · Casino Games · 원주 출장마사지 Vegas Style Casino · 울산광역 출장마사지 Casino City Poker · Vegas Slot Machines · Golden 나주 출장마사지 Nugget Casino · Golden