Oleh : Nawa Muhammad *)
Sejarah memiliki ikatan erat dengan kesadaran manusia. Karena sejarah
merupakan media yang menampung semua kegiatan manusia dalam segala
aspek. Baik budaya, social, politik, maupun ekonomi. Proses transformasi
dan generalisasi nilai yang pernah dilalui suatu bangsa juga tidak akan
mampu dipahami oleh generasi berikutnya jika tidak terdapat system
penghubung antar generasi tersebut.
Kompatibilitas antara sejarah dan kesadaran manusialah yang membuat
pemahaman terhadap sejarah menjadi keniscayaan. Niscaya, karena manusia (
sesuai fitrahnya ) dituntut sadar terhadap tanggung jawab koletif untuk
mengawal laju peradaban bangsa dan mengamankannya dari proses
demoralisasi dan sekian isme yang mengarah pada defitrahisasi ( istilah
saya sendiri )
Pemahaman terhadap sejarah, termasuk sejarah masuknya Islam di Indonesia
kebanyakan berorientasi pada proses oralisasi, lengkap dengan sekian
prokon yang ditimbulkan oleh struktur system masyarakat dalam
memahaminya. Pemahaman terhadap sebuah diksi sejarah akan sangat
memiliki pengaruh yang kuat terhadap cara berpikir, berlaku, dan
bertindak suatu masyarakat. Sehingga dari ini dapat kita tarik benang
merah, bahwa perbincangan sejarah sebenarnya bukan kegiatan mendongeng
an sich. Namun, dari aktivitas tersebut, peradaban suatu bangsa sedang
dipertaruhkan. Karena proses transformasi peradaban sebuah bangsa
ditentukan dengan bagaimana sebuah generasi memahami sejarah bangsanya.
Tulisan ini merupakan upaya mereaktualisasi pemahaman sejarah tentang
siapa sebenarnya para Walisongo. Sekaligus menelisik asal-usul silsilah
nasabnya sebagai bentuk pembelaan terhadap sejarah Islam Indonesia dari
gejala keburam-kaburan yang justru ditimbulkan dari studiy sejarah itu
sendiri. Selain itu, juga merupakan upaya intelektual untuk menegaskan
kontribusi riil ulama Hadhramaut dalam dinamika dakwah Islam di
Indonesia yang sejauh ini hanya sebatas oralisasi sejarah.
Statemen Syaikh Ali Thonthowi dalam kitab Rijalun min Al-Tarikh
Walisongo merupakan fenomena sejarah Islam Indonesia. Merekalah yang
menurut banyak referensi sejarah adalah para da'i yang menyebarkan agama
Islam di Nusantara. Meskipun terjadi perdebatan panjang mengenai
munculnya beberapa da'i yang diduga lebih dulu menyebarkan Islam di
Indonesia sebelum mereka, namun fakta antropologi, sosiologi, dan
intelektual, membuktikan bahwa Walisongo inilah yang banyak mempengaruhi
ciri beragama masyarakat Indonesia sampai sekarang. Sehingga proses
konversi yang dilakukan setiap generasi terhadap nilai warisan Walisongo
menjadikan keberagamaan Indonesia memiliki ciri tersendiri.
Walisongo lantas menjadi model beragama masyarakat Indonesia, sehingga
kemudian banyak upaya menghadirkan kembali sosok mereka. Puluhan buku
sejarah Walisongo ditulis, bahkan, industri perfilmanpun ikut andil
dalam memvisualisasi kegigihan mereka dalam berdakwah. Namun dengan
tiba-tiba, seorang sejarawan besar asal Mesir, Syaikh Ali Thonthowi,
dalam kitabnya Rijalun min Al-Tarikh, menyangsikan sejarah mereka.
Dalam kitab Rijalun Min Al-Tarih yang merupakan kompilasi dari lebih 500
buku sejarah Islam berbagai bangsa tersebut, Syaikh Ali Thonthowi (
dengan penuh kesadaran ) tidak memasukkan Sejarah Islam Indonesia.
Menurut beliau, hal itu disebabkan oleh ketidak jelasan asal-usul dan
sislsilah nasab para dai Islam di Indonesia ( Walisongo ). Berikut ini
kutipan statemen beliau: "saya telah berada di Indonesia selama satu
bulan, hari-hari saya di sana saya habiskan bersama para cendekia dan
sastrawan, sementara malam harinya saya gunakan untuk memberikan kuliah
dan seminar. Saya telah mengunjungi berbagai universitas dan
perpustakaan sampai ahirnya saya sampai di bagian ujung pula jawa. Di
sana terdapat makam seorang yang membawa Islam ke Negara tersebut yang
bernama Ibrahim. Mereka mengagungkan tokoh ini dan menyebutnya Sultan
Ibrahim. Siapakah sebanarnya Ibrahim yang dimaksud ? Saya tidak
menemukan seorangpun atau satu referensipun yang mampu menunjukkan siapa
sebenarnya dia dan darimana dia berasal "
Tidak jelas siapa yang dimaksudkan dengan Ibrohim oleh Syaikh Ali
Thonthowi. Apakah Ibrahim Asmarakandi yang makamnya terdapat di Tuban,
atau Maulana Malik Ibrahim yang makamnya terdapat di Gresik. Dalam
paragraf tersebut pun terdapat ambiguitas pemahaman. Melihat kalimat
beliau " di sana terdapat makam seorang yang membawa Islam ke Negara
tersebut " dapat diduga yang dimaksud beliau adalah Ibrahim Asmarakandi,
karena banyak sejarah yang menuturkan bahwa beliaulah yang pertama kali
membawa Islam. Namun jika melihat kalimat belaiu yang lain " Mereka
mengagungkan tokoh ini dan menyebutnya Sultan Ibrahim." Bisa saja yang
dimaksudkan adalah Maulana Malik Ibrahim Gresik, karena kalimat Maulana
yang digunakan sebagai nama depan Malik Ibrahim bisa berarti Sultan.
Barangkali dapat dimaklumi, bahwa pada masa awal masuknya Islam ke
Indonesia, kodifikasi sejarah belum menjadi sesuatu yang
dipenting-soalkan. Sehingga hal tersebut, di kemudian hari menimbulkan
perdebatan panjang seputar asal-usul para da'I yang pertama kali
menyebarkan Islam di Nusantara. Ketiadaan kodifikasi sejarah itu
diperparah lagi dengan politik kolonial belanda yang memang sengaja
mengaburkan sejarah masuknya Islam di Nusantara. Amir Syakib Arslan
dalam bukunya Hadlir al Alam Al Islami menjelaskan ini sebagai gagasan
licik dari orientalis belanda kenamaan, Snouck Hurgronje. Menurut Amir
Syakib, belanda hanya menjelaskan bahwa proses masuknya Islam dimulai
dengan ekspedisi niaga bangsa Arab yang kemudian dilanjutkan dengan
pertukaran pengetahuan yang terjadi antara mereka dan pribumi, dan
sangat jarang – untuk tidak mengatakan tidak sama sekali – menjelaskan
beberapa imperium yang didirikan oleh para pedagang Arab. Hal ini
kemudian dimasukkan kedalam system pendidikan kita sehingga yang banyak
kita ketahui adalah Islam masuk ke Nusantara dibawa pedagang dari
Gujarat, selebihnya banyak yang tidak dimengerti.
Dari Tarim Hadhramaut ke India
Bertolak dari Gujarat-India yang menurut sumber-sumber terkuat merupakan
negeri asal Walisongo, kita akan merunut sejarah mereka secara lebih
detail. Menurut Sayyid Abdurrohman bin Muhammad bin Husain Al Masyhur (
pengarang kitab Bughyat al Musytarsyidin ) dalam kitabnya Syamsu Al
Dhohiroh, pada paruh kedua abad ke enam Hijriyyah, Sayyid Abdul Malik
bin Alawi Muqoddam Ali Abdul malik meninggalkan kota Tarim menuju India.
Tidak disebutkan apa motivasi beliau melakukan Hijrah tersebut, apakah
karena kepentingan dakwah atau semata dagang, namun banyak diduga
ekspedisi ini bertujuan keduanya, mengingat bahwa sejarah mencatat
kebiasaan warga Hadhramaut dalam melakukan dagang sekaligus dakwah di
berbagai daerah yang mereka singgahi.
Sesampainya di India, beliau melakukan dakwah sekaligus dagang.
Perkembangan dakwah dan dagang yang dirintis oleh beliau ternyata cukup
menunjukkan hasil yang signifikan sehingga ahirnya beliau menetap di
sana. Bahkan, beliau dan putra-putra beliau memiliki daerah sendiri di
India bagian timur dan bergelar Udhmat Khan atau Azmatkhan ( dalam
beberapa literature, gelar ini disebutkan Udhmat Khazin ). Van Den Berj,
seorang orientalis Belanda dalam sebuah bukunya menuturkan, bahwa,
sebagian keluarga Alawiyyin ( istilah untuk menyebut Ahlilbait ) tidak
tinggal di Hadhramaut, karena keluarga Abdul Malik terdapat di India,
dan di daerah ini mereka bergelar Udhmat Khan.
Selanjutnya, pada paruh pertama abad ke 7 Hijriyyah ( 13 Masehi )
kepentingan dakwah dan niaga membuat sebagian dari anak dan cucu Sayyid
Abdul Malik berpencar ke Kamboja, Thailand, dan bahkan China. Dari
sekian banyak cucu beliau yang berangkat ke Asia Tenggara adalah Husain,
anak dari Ahmad Syah Jalal yang bermukim di India. Selanjutnya Husain
menetap di Kamboja. Selain berdakwah di Kamboja beliau bersama dua
anaknya Ibrahim dan Nuruddin atau Nurul Alim sering bepergian ke Siyam
dan Jawa. Oleh orang jawa, Husain diberi gelar Jumadil Kubro atau
Jumadil Akbar. Sedang kedua anaknya, Ibrahim ( Asmarakandi ) dan Nurul
alim berpencar, Ibrahim kemudia berdakwah di Jawa Timur ( Di sekitar
Tuban ), sedang Nurul Alim berdakwah di Jawa Barat yang selanjutnya
memiliki keturunan Syarif Hidayatullah ( Sunan Gunung Jati ).
Silsilah nasab Walisongo.
Tedapat beberapa versi mengenai silsilah nasab Walisongo yang sampai
pada Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia sendiri terdapat beberapa Sislsilah
nasab yang ditulis secara pribadi seperti yang dilakukan Muhammad Irfan
dalam bukunya Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim atau silsilah yang
ditulis oleh instansi seperti Kasunanan Cirebon dan Kesultanan
Palembang. Dari sekian silsilah tersebut hamper semuanya sama, atau
jikapun terdapat perbedaan, hal tersebut hanya terdapat pada penulisan
nama, misalnya Nurul Alim ditulis dengan Nuruddin dsb.
Untuk memperjelas silsilah nasab walisongo sampai Rasulullah SAW,
berikut ini adalah kutipan dari kitab Tarikh al-Islam fi Banten yang
menyebutkan nasab walisongo :
Ibrahim Asmarakandi ( Tuban ) bin Husain Jamaluddin Jumadil Kubro (
Bugis ) bin Sayyid Ahmad Syah Jalal ( India ) bin Sayyid Abdul Malik (
Tarim-India ) bin Sayyid Alawi ( Tarim ) bin Sayyid Muhammad ( Sohibu
Mirbath Hadhramaut ) bin Sayyid Ali ( Qasam Tarim ) bin Sayyid Alawi (
Beit Jubeir-Tarim ) bin Sayyid Muhammad ( Beit Jubeir-Tarim ) bin Sayyid
Alawi ( Sumal ) bin Sayyid Abdillah ( Ardlbur-Hadhramaut) bin Sayyid
Ahmad ( Husyaisah-Hadhramaut ) bin Sayyid Isa (Bashrah-Iraq ) bin Imam
Muhammad Naquib ( Bashrah-Iraq ) bin Imam Ali Al-Uraidli ( Madinah ) bin
Imam Ja'far Shodiq ( Madinah ) bin Muhammad Al Baqir ( Madinah ) bin
Sayyid Ali Zainal Abidin ( Madinah ) bin Sayyid Husain ( Madinah ) Bin
Sayyidah Fatimah Al-Zahra binti Rasulullah SAW.
Silsilah yang tersebut di atas sudah dibandingkan dengan beberapa
silsilah yang terdapat di Kesultanan Palembang, Kasepuhan Cirebon, dan
Banyuwangi. Selain sesuai dengan silsilah yang ditulis di Indonesia,
silsilah tersebut juga sesuai dengan salinan Silsilah yang terdapat di
Rabithah Alawiyyin ( Ikatan bani Alawi ) yang terdapat di Arab Saudi.
Selain itu juga diperkuat dengan pernyataan Road De La Faille F.DE yang
menyatakan bahwa nasab Syaikh Jamaluddin Jumadil Kubro sampai pada
Sayyid Ali Zainal Abidin.
Kontribusi imigran Hadlramaut dalam sejarah Islam Indonesia.
Membicarakan sejarah Islam di Indonesia, ( bagaimanapun ) tidak akan
dapat terlepas dari membicarakan kontribusi imigran Hadlramaut dalam
melakukan usaha penyebaran Islam di Nusantara. Sejak lama bangsa
Hadlramaut memang memiliki kecenderungan untuk melakukan ekspedisi
dagang ke luar daerah mereka. Hal ini menurut para sejarawan disebabkan
terbatasnya sumber daya alam yang terdapat di Hadlramaut. Salah satu
ekspedisi yang mereka lakukan ialah menuju Asia Tenggara, sehingga
kemudian sejarah mencatat banyak para Imigran tersebut yang berhasil
mendirikan imperium Islam di Malaysia, Singapura, Brunei, Kamboja dan
Thailand.
Di Indonesia, mereka juga berhasil mendirikan beberapa imperium turatama
diluar jawa seperti kerajaan Pontianak, Palembang, Aceh, dan Banjar
yang didirikan oleh imigran asal Hadlramaut. Adapun di Jawa, kekuatan
Majapahit sebagai imperium besar yang menjadi salah satu negara maritime
yang disegani dunia kala itu mampu ( untuk sementara ) membendung arus
Islam masuk ke Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah, sedangkan di Jawa
Barat dan sebagian kecil Jawa Tengah di bendung oleh kekuatan kerajaan
Padjajaran. Baru setelah berdirinya kesultanan Demak, arus Islam itu
mulai menyebar ke seluruh Jawa.
Kontribusi imigaran Hadlramaut dalam melakukan dakwah Islam di Indonesia
ini juga sempat membuat bingung pemerintah penjajahan belanda. Hal
tersebut terbukti dengan pidato orientalis Snouck Hurgronje yang dikutip
Syakib Arslan dalam Hadlir Al-Alam Al-Islami bab Islam di jawa. Kata
Snouck: Permasalahan Imigran Hadlramaut merupakan masalah yang dianggap
ringan oleh pemerintah Belanda, pemerintah dengan mudah memberikan ijin
masuk kepada mereka dan hanya memberlakukan syarat-syarat yang mudah
mereka penuhi ketika mereka hendak menetap (di Indonesia ). Namun
setelah mereka menetap dan melakukan dakwah, kita merasa kewalahan
membendung aksi itu. sehingga saat ini, kita ( Belanda ) menghadapi
problem dilematis antara keharusan menekan mereka untuk memproteksi
gerakan dakwah Islam dan kehawatiran tekanan itu akan membuat mereka
mengadu ke Khilafah ( Turki ), dan semua media baik Islam maupun non
Islam lantas mengekspos pengaduan tersebut. Jika begitu adanya, maka
politik internasional kita akan berada dalam posisi yang sangat rawan,
karena pengaduan itu benar-benar berbahaya.
Pidato orientalis Snouck Hurgronje tersebut secara implicit
menggambarkan kontribusi imigran Hadlramaut dalam proses Islamisasi
Indonesia merupakan hal yang mencemaskan bagi belanda. Hal tersebut bisa
dimaklumi mengingat ideology penjajahan belanda yang semata-mata
berlatar belakang ekonomi mengharuskan mereka menutup celah apapun
termasuk ideology yang bersifat subversive. Dan bentuk subversi yang
paling ditakuti Belanda adalah subversivitas dengan latar belakang
Agama.
Dari beberapa penjelasan diatas membuktikan bahwa, statemen Syaikh Ali
Thontowi dalam Rijalun Min Al-Tarikh adalah pemburam-kaburan sejarah
Islam Indonesia. Atau ( mungkin ) beliau tidak menemukan beberapa
reverensi yang menyebutkan hal tersebut, sehingga timbullah statemen
dalam Rijalun Min Al-Tarikh itu. Atau bias jadi, sejarah Islam Indonesia
memang memerlukan regenesis. Bangsa yang besar, kata para founding
father bangsa, adalah bangsa yang mampu menghargai sejarahnya. Hal
itulah yang kemudian menginspirasi revolusioner Ir. Soekarno mencetuskan
akronim Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Bagaimana
dengan generasi muslim Indonesia, bagaimana dengan kita ?? Wallahu
A'lam.
Bibliografi :
Syamsu Al-Dhohiroh : Abdurrahman Muhammad Al-Masyhur
Hadlir Al-Alam Al-Islami : Amir Syakib Arslan
Muhtar Al-Mashun : Muhammad Hasan Musa
Tarikh Al-Islam Fi Banten : Ahmad Assagaff
Ta'liq Syamsu Al-dhohiroh : Dliya' Syahab
Intelektual Pesantren : Abdurrahman MA, P.Hd
Al Islam wa Muskilat al-Hadloroh : Sayyid Qutub
*) Penulis adalah Presiden Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman (PPI
Yaman) dan sekarang sedang memulai belajar menjadi kontributor di
beberapa media.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Posting Komentar Blogger Facebook