A. Badruttamam Hasan*)
Aktivitas masyarakat dewasa ini berkembang begitu cepat dan pesat,
melampaui kecepatan berpikir manusia. Demikian ungkap Dr. Ali Gom'ah,
Mufti Negara Mesir. Realita ini berdampak pada munculnya
penyikapan-penyikapan yang cenderung datar dan mengambang dari berbagai
macam lapisan masyarakat, termasuk diantaranya para da'i. Sehingga tidak
jarang sikap-sikap tersebut bukannya menyelesaikan masalah. Akan tetapi
malah sebaliknya, semakin menambah runyam permasalahan yang ada.
Oleh karena itu, kiranya sangat diperlukan adanya kaidah-kaidah khusus
dalam menyikapi berbagai permasalahan masyarakat, terutama bagi para
da'i. Dengan mengikuti kaidah-kaidah ini, diharapkan para da'i dapat
lebih arif dalam menyikapi setiap permasalahan yang sedang terjadi serta
mampu menyelesaikannya. Hal ini tentunya akan sangat mendukung
keberhasilan dalam berdakwah.
Berikut ini adalah beberapa kaidah dimaksud yang disarikan dari Kajian
Fikih Dakwah yang diasuh oleh Habib Ali Al-Juffri dan disampaikan kepada
para peserta Daurah Shaifiyah XV Pesantren Darul Mushthafa, Tarim
Hadhramaut Yaman, pada hari Sabtu malam Ahad, 5 Sya'ban 1431 H./17 Juli
2010 M. dengan beberapa pengurangan dan penambahan tanpa merubah
subtansinya.
1. Mengaitkan akar permasalahan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Seorang da'i jangan hanya berupaya menangani sebuah permasalahan dari
akarnya, tanpa mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat,
sehingga tampak kaku dan kurang dapat dicerna oleh masyarakat. Jangan
pula hanya terkonsentrasi kepada apa yang muncul dipermukaan, tanpa
memperhatikan akar permasalahan yang sebenarnya.
2. Pengecekan terlebih dahulu validitas informasi yang didapat sebelum
mengambil sikap dan melakukan reaksi. Seorang da'i tidak diperkenankan
menerima begitu saja informasi yang beredar di masyarakat dari berbagai
media massa. Akan tetapi dia harus melakukan cek dan ricek terlebih
dahulu kepada sumber yang betul-betul dapat dipercaya. Baru kemudian
menentukan sikap yang tepat.
3. Memilih solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah antara diam atau
melakukan reaksi. Karena tidak semua permasalahan harus diselesaikan
dengan melakukan sebuah reaksi. Banyak diantara permasalah justeru akan
lebih cepat selesai dengan cara diam.
4. Menghindari pemerataan (ta'mim), baik dalam mengungkapkan pujian
ataupun celaan. Sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
(ومن أهل الكتاب من إن تأمنه بقنطار يؤده إليك ومنهم من إن تأمنه بدينار لا يؤده إليك إلا ما دمت عليه قائما)
"Dan diantara Ahli Kitab ada yang jika engkau percayakan kepadanya harta
yang banyak, niscaya dia mengembalikannya kepadamu. Tetapi ada (pula)
diantara mereka yang jika engkau percayakan kepadanya satu dinar, dia
tidak mengembalikannya kepadamu, kecuali jika engkau selalu menagihnya."
(S. [03] Ali Imran: 75).
5. Tidak gegabah dan tergesa-gesa dalam upaya penyelesaian masalah.
Dengan kata lain, pengambilan sebuah sikap dan tindakan haruslah
didasari pertimbangan yang matang; apakah tindakan yang akan diambil
efektif ataukah tidak?
Kewajiban seorang da'i dalam menyikapi sebuah permasalahan adalah
berupaya untuk menyelesaikannya (tafa'ul ma'al isykal). Bukan
menampakkan perasaan emosi dan marah dengan segala cara (infi'al bil
musykilah).
Poin ini sangat penting untuk diperhatikan. Karena pengambilan tidakan
yang salah justeru akan membuat permasalahan menjadi semakin besar.
Ambil saja contoh aksi-aksi pelecehan yang dilakukan oleh sebagian
masyarakat Barat yang berhaluan ekstrim dan fundamental, terhadap
Al-Qur`an atau Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.
Mayoritas umat Muslim, yang diantaranya mendapatkan arahan dari sebagian
pemuka agama Islam, menyikapinya dengan kepala panas. Sehingga pada
akhirnya berbuntut pada tindakan-tindakan anarkis seperti pembakaran,
pengrusakan, penghancuran aset-aset Barat dan lain-lain.
Berbagai tindakan ini kemudian dimanfaatkan oleh media massa barat untuk
semakin memojokkan Islam. sehingga tidak heran jika kemudian banyak
diantara orang Barat yang asalnya tidak peduli atau bahkan mengecam
tindakan pelecehan tersebut, menjadi berubah pikiran dan berbalik arah
mengecam tindakan-tindakan anarkis umat Muslim. Citra Islam menjadi
semakin buruk di mata Barat.
Dengan demikian, secara tidak sadar berarti kita telah mempersempit atau
bahkan menutup pintu kesuksesan untuk berdakwah dan misi islamisasi di
Barat.
Segelintir orang yang melakukan pelecehan tersebut, semakin bergembira
dan tertawa terbahak-bahak menikmati hasil upaya mereka yang jauh
melampaui apa yang mereka bayangkan sebelumnya.
Namun, bukan berarti kita hanya diam membisu menyaksikan
pelecehan-pelecehan tersebut. Kita tetap harus mengambil sikap serta
melakukan tindakan untuk menghentikannya. Hanya saja, sebelum
melakukannya, terlebih dahulu harus dipikirkan masak-masak efektifitas
tindakan tersebut.
Jika seandainya saat itu umat Islam tidak melakukan tindakan-tindakan
anarkis serta menyerahkan penyelesaian masalah kepada para ulama dan
kemudian para ulama mengambil tindakan-tindakan yang dianggap efektif
untuk menghentikannya. Misalnya dengan mengadakan dialog-dialog terbatas
dengan para pemuka Barat. Tentu kenyataannya akan berbeda.
6. Berupaya semaksimal mungkin menghindari adanya indikasi pemihakan
(tahayyuz) terhadap kelompok tertentu dalam penyampaian sikap. Seorang
da'i haruslah mengambil kebenaran serta berupaya meluruskan kesalahan
dari kelompok manapun.
7. Menghargai para ahli dalam bidang apapun (ihtirom al takhosshush).
Atau dengan kata lain, seorang da'i tidak diperkenankan untuk berbicara
tentang sesuatu yang tidak ia kuasai.
Seorang da'i yang kurang menguasai ilmu ekonomi misalnya, seharusnya
tidak berbicara panjang lebar mengenai sebab-sebab krisis ekonomi serta
solusi dalam mengatasinya. Agar tidak menjadi bahan tertawaan para
ekonom.
Contoh lain, seorang da'i yang kurang menguasai pemikiran liberal serta
cara membantahnya misalnya, tidak selayaknya melakukan debat terbuka
dengan kaum liberal. Agar tidak menjadi bahan tertawaan masyarakat,
sehingga mengesankan seolah-olah kaum liberal-lah yang berada di jalan
kebenaran.
Bukanlah sebuah aib, jika seorang da'i mengatakan; saya tidak tahu.
8. Menghindari cara-cara yang justeru dapat memperluas permasalahan pada
masyarakat umum. Seorang da'i janganlah berpidato atau berceramah
tentang sebuah permasalahan, di hadapan masyarakat yang sama sekali
tidak mendengar dan tidak tahu-menahu permasalahan tersebut. Kecuali
sekedar untuk memperingatkan mereka agar jangan sampai terjerumus
kedalamnya.
Seorang da'i janganlah berceramah panjang lebar tentang liberalisme
mislanya, dihadapan masyarakat pedesaan yang sama sekali tidak
mengetahui hal ini. Kecuali sekedar mengingatkan mereka agar jangan
sampai mengikuti orang-orang yang berpikiran nyeleneh dan berpesan agar
tetap berpegang teguh dengan apa yang diajarkan oleh para as-salafus
shalih.
9. Menghindari sikap ambivalensi (plin-plan) dalam menyikapi sebuah
permasalahan. Seorang da'i janganlah berkata A di timur, tapi kemudian
berkata B di barat.
Tidak ada masalah seandainya dia hanya menerapkan cara yang berbeda
dalam menyampaikan sikap, sesuai dengan situasi masyarakat yang sedang
ia hadapi, tetapi dengan syarat subtansinya harus tetap sama. Yang
terlarang adalah ambivalensi sikap yang sampai pada taraf berlawanan.
Karena hal ini dapat menghilangkan kepercayaan kedua kelompok masyarakat
terhadapnya.
Satu contoh, Ketika terjadi kasus pelecehan terhadap Nabi Muhammad
Shallallahu alaihi wasallam oleh salah satu media massa Denmark, ada
seorang da'i yang tidak diragukan keikhlasannya dalam berdakwah, jatuh
martabatnya gara-gara tidak mengikuti kaidah ini. Kepada umat Islam dia
menyeru untuk melakukan pemboikotan terhadap produk-produk Denmark.
Tetapi ketika dia berkunjung ke Barat dan ditanya apakah dia menyeru
untuk melakukan pemboikotan, dia menyatakan tidak. Selang sehari setelah
pernyataanya itu, beberapa media massa memuat fotonya di bawah judul;
Syekh Pembohong Besar. Tak ayal lagi, kepercayaan masyarakat terhadapnya
menjadi pudar. Baik dimata umat Islam maupun dimata masyarakat Barat.
10. Menghindari penyebutan nama individu atau kelompok yang sedang
dikritik sebisa mungkin. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad
Shallallahu alaihi wasallam, dengan menggunakan kalimat; "ma balu
qaumin" dan yang semisal tanpa menyebutkan nama kaum tersebut.
Inilah kaidah-kaidah utama sebagai penunjang kesuksesan dalam berdakwah,
yang dapat saya tangkap dari apa yang disampaikan oleh Beliau selama
kurang lebih satu jam.
Sebelum mengakhiri muhadharah-nya, beliau menegaskan bahwa tugas seorang
da'i adalah berupaya meluruskan sebuah kesalahan (mu'alajah
al-khatha'). bukan memusuhi orang yang melakukan kesalahan (mu'adah
al-mukhthi').
Wallahu A'lam bis Showab.
*) Koordinator Dept. Pendidikan & Dakwah Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman 2009-2010 M. Wilayah Hadhramaut.