Tarim-Hadhramaut. Wafatnya ulama besar Syaikh Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi pada Kamis lalu (21/3) membawa duka umat Islam. Ungkapan belasungkawa turut mewarnai kesedihan dan mendorong para pengurus organisasi pelajar Indonesia di Yaman untuk turut menyampaikan rasa belasungkawa dengan cara tersendiri.
Inisiatif ini kemudian ditumpahkan dalam acara sederhana yang bertajuk “Mengenang dan Meneladani Perjuangan Syaikh Ramadahan Al-Buthi”. Acara ini bertempat di Auditorium Fakultas Syariah wal Qanun, Universitas Al Ahgaff, Tarim-Hadhramaut pada hari Rabu (28/3).
Inisiatif ini kemudian ditumpahkan dalam acara sederhana yang bertajuk “Mengenang dan Meneladani Perjuangan Syaikh Ramadahan Al-Buthi”. Acara ini bertempat di Auditorium Fakultas Syariah wal Qanun, Universitas Al Ahgaff, Tarim-Hadhramaut pada hari Rabu (28/3).
Acara sederhana yang diprakarsai Dewan Pengurus Wilayah Hadhramaut Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman (DPW Hadhramaut PPI Yaman) bekerja sama dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Yaman (PCI NU Yaman) berjalan sukses penuh khidmat.
Diawali dengan pembacaan khataman Al-Quran, tahlil dan doa. Setelah itu acara disusul dengan sambutan dan pembacaan biografi almarhum dari kawan-kawan pelajar Indonesia.
“Dengan diadakannya acara ini, kami berharap dapat mengambil banyak faidah dengan meneladani sosok almarhum”, tutur Pandi Yusron selaku ketua DPW Hadhramaut PPI Yaman.
“Dengan diadakannya acara ini, kami berharap dapat mengambil banyak faidah dengan meneladani sosok almarhum”, tutur Pandi Yusron selaku ketua DPW Hadhramaut PPI Yaman.
Dalam sesi pembacaan biografi, Sofwan Jauhari memaparkan bahwa Almarhum Syaikh Al Buthi adalah figur ulama yang mengabdikan penuh dirinya untuk umat. Beliau merupakan seorang ulama pemikir Islam moderat sekaligus penulis yang sangat produktif. Berpuluh-puluh buku telah beliau karang. Fikih Sirah An Nabawiyah adalah salah satu karya beliau yang dijadikan mata kuliah di Fakultas Syariah wal Qanun Universitas Al Ahgaff ini.
“Satu hal yang patut kita teladani adalah besarnya penghormatan Al Buthi kepada ayahnya”, papar Mahrus Ali saat memberi wejangan di penghujung sesi acara tersebut. Tambahnya, “Meski di umur yang ke-40 tahun, beliau masih tetap meminta izin ayahandanya disetiap kali beliau hendak bepergian. Bila ayahnya tidak berkenan, beliau tidak pernah mengelak”, tambahnya sambil mengisahkan sekelumit perjalanan kisah almarhum dengan ayahandanya, Syaikh Mulla Ramadhan.
(Moh. Syahid, Kru reporter PPI Yaman)

Posting Komentar Blogger Facebook