Tarim,
NU Online
Serangkaian
acara Konferensi Cabang (Konfercab) ke-II yang digelar Pengurus Cabang Istimewa
Nahdlatul Ulama’ (PCINU) Yaman berakhir sudah. Acara yang dimulai sejak Ahad
(9/2) selama empat hari bertutut – turut ini melahirkan sejumlah keputusan
penting. Diantaranya adalah perubahan masa khidmah dari dua tahun menjadi satu
tahun.
Konfercab
yang dilehat Rabu (12/2), pukul 18.30 KSA di Auditorum Fakultas Syariah wal
Qanun, Universitas Al-Ahgaff, Tarim tersebut dimulai dengan acara tahlil dan
peringatan Haul Masyayikh NU. Kemudian dilanjutkan dengan laporan pertanggung
jawaban pengurus, sidang pembahasan program kerja, rumusan organisasi, dan
pemilihan rais tanfidziyah dan rais syuriah yang baru.
Melalui
hasil musyawarah dewan formatur (ahlul hil wal ‘aqd), amanah rais
tanfidziyah periode 2014 – 2015 M diserahkan kepada Dzul Fahmi, mahasiswa
tingkat empat Universitas Al-Ahgaff setelah sebelumnya dikomandai Hamzah Iklil.
Sedangkan posisi rais syuriah, diserahkan kepada Ust. Nuril Izza Muzakki,
mahasiswa asal Semarang, menggantikan H. Mahrus Ali.
Dalam
sambutannya, Rais Syuriah terpilih, Nuril Izza Muzakki berharap agar seluruh
komponen warga nahdliyyin di Yaman bahu-membahu untuk menghidupkan eksistensi NU
di Yaman. Sebagai ormas terbesar di tanah air, terang Nuril, spirit untuk
memperjuangkan cita-cita pendiri NU tak boleh lekang tertelan zaman.
“Menjadi
pengurus NU sejatinya adalah pengabdian kepada para masyayikh dan pesantren,”
ujar alumnus pesantren Lirboyo tersebut.
Terkait
semakin dekatnya Pemilu Legislatif dan Presiden yang akan digelar, Nuril
kembali mengingatkan bahwa NU adalah organisasi sosial keagamaan yang sama
sekali tidak boleh terseret ke dalam arus politik. Ia lantas menegaskan bahwa
ajakan untuk kembali ke Khittah harus terus dipertahankan.
Sedangkan
Rais Tanfidziyah terpilih, Dzul Fahmi, berharap Konfercab kali ini adalah
menjadi sebuah titik kebangkitan para pemuda NU dalam meneguhkan identitas
keaswajaan. Mahasiswa asal Denpasar Bali yang pada periode sebelumnya aktif di kajian
Lakpesdam itu menegaskan, bahwa kehadiran PCINU harus dirasakan, tak hanya oleh
para nahdliyyin di Yaman, namun juga Bangsa Indonesia. Merebaknya radikalisme
pemikiran, imbuh Fahmi, adalah salah satu tantangan bagi pemuda NU ke depan.
“PCINU
harus lantang menyuarakan pilar moderatisme !”, ujar alumnus pesantren
Al-Yasini, Areng-areng Pasuruan tersebut.
Pra-Konfercab
Sebelum
hari utama Konfercab dilaksanakan, agenda pra-Konfercab diisi dengan konferensi
ilmiah yang diisi dengan bedah pemikiran tokoh NU, dalam sudut pandang maqashid
syariah. Diantara pemikiran tokoh yang dibedah adalah Resolusi Jihad Kyai
Hasyim Asy’ari, Asas Pancasila Kyai Ahmad Siddiq, Humanisme Gus Dur, dan Fikih
Sosial Kyai Sahal Mahfudz. Selain itu juga dilaksanakan Bahstul Masail
Kebangsaan yang diikuti sejumlah delegasi pelajar dari berbagai institusi
pendidikan di wilayah Hadhramaut. Makalah-makalah yang telah dipresentasikan
serta hasil diskusi rencananya akan dibukukan dalam waktu dekat.
Sebagaimana
diketahui, Yaman adalah salah satu negara yang menjadi tujuan para pelajar
Indonesia menuntut ilmu di Timur Tengah. Bahkan jumlah mahasiswa Indonesia di
Yaman terbanyak kedua setelah Mesir. Selain itu juga ada ribuan santri tanah
air yang tersebar di puluhan ribath dan ma’ahid. Dari keseluruhan pelajar
Indonesia yang berada di Yaman, 80 % lebih merupakan para santri jebolan
pesantren NU. Dengan demikian, Konfercab Istimewa PCINU Yaman yang kedua ini
diharapkan mampu menghidupkan kembali semangat kabangkitan Ulama’ di negeri
seribu wali tersebut.
[Nizar]

Posting Komentar Blogger Facebook