Hudaidah Yaman – NU Online
PCINU Yaman terus bergeliat. Satu per satu program
kerjanya mulai berjalan. Kamis (15/05), diskusi hangat menyoroti wacana
perpolitikan di tanah air digelar di Ruang Paralel Universitas Darul ‘Ulum,
Hudaidah. Dihadiri sekitar 40 warga nahdiyyin, diskusi ini mengangkat tema
“Membincang Wacana Politik Islam di Indonesia”.
Diskusi ini juga digelar dalam rangka memeriahkan Harlah NU ke-91, yang
lahir pada 16 Rajab 1344 H.
“Politik di tanah air saat ini sedang memanas,
sehingga temanya pun cukup relevan,” ujar Ahmad Najih, mahasiswa Fakultas
Dirosah Islamiyah Universitas Darul Ulum, yang saat ini mengemban amanah
sebagai Wakil Ketua I Tanfidziyah PCINU Yaman dalam kata sambutannya.
Diskusi yang dimulai sejak pukul 21.00 KSA
tersebut, menghadirkan dua pemakalah ; Ust. M. Ali Mahmudi, Lc dan Ust. Hasan
Djunaidi, Lc. Keduanya merupakan alumnus Universitas Darul Ulum. Selain itu,
beberapa delegasi perwakilan sejumlah ormas juga turut hadir, seperti FPI dan
Muhammadiyah.
Dalam makalahnya berjudul “Syari'at Islam ala
Nahdiyyin”, Ali Mahmudi menuturkan bahwa secara teoritis, implementasi syariat
islam bisa dibagi menjadi dua macam ; pertama adalah sistem topdown
yaitu metode penerapan syariat islam yang dimulai dari tingkat atas ke bawah
yang pelaksanaannya dimulai dari merubah sistem pemerintahan, dan yang kedua
adalah sistem bottom up yaitu metode penerapan syariat Islam yang
dimulai dari bawah ke atas yang pelaksanaannya dimulai dari masyarakat kelas
bawah. “Sistem yang kedua inilah yang dipilih para walisongo dan diteruskan
oleh Ulama NU, dan ternyata berhasil dan bertahan sampai saat ini,” tutur
lajang asal Surabaya tersebut.
Diskusi semakin ‘panas’ ketika pemakalah kedua,
Hasan Junaidi, mempresentasikan makalahnya berjudul “Sistem Khilafah Bagaikan
Mimpi di Siang Bolong”. Menurut mahasiswa asal Padang itu, sistem yang cocok
untuk pemerintahan Indonesia adalalah sistem demokrasi, bukan sistem khalifah
yang selama ini digembar-gemborkan sebagian kalangan. Menurutnya, kemajemukan yang
dimiliki bangsa Indonesia sangat bisa bersinergi dengan corak sistem demokrasi yang
juga sangat memungkinkan untuk memasukkan butir-butir syariat Islam dalam
esensi penerapannya.
Hasan juga menanggapi asumsi segelintir kelompok
yang mengklaim bahwa Indonesia adalah negara thagut karena tidak menjadikan
syariat Islam sebagai dasar hukum formal negara. “Kendati tidak dijadikan hukum
secara formal, syariat Islam sudah masuk ke sebagian hukum di Indonesia,”
tegasnya. Sebut saja, UU terkait pernikahan, ahli waris, waqaf, dan zakat. Bagi
Hasan, tidak diterapkannya hukum jina’i (kriminal) di tanah air, tidak serta
menjadikan Indonesia sebagai negara yang anti syariah apalagi sekuler.
Diskusi yang dipimpin rekan M. Khoiruz Zadit Taqwa
ini berlangsung hangat hingga pukul 00.00 KSA, kendati dilangsungkan di tengah
suhu musim panas kota Hudaidah yang telah mencapai 41 derajat celcius. Apalagi
di awal acara sempat diwarnai dengan insiden mati listrik.
Dalam sambutannya sebagai Dewan Syuriah PCINU
Yaman, Ust. Ahmad Hasin Ihsan berharap agar budaya diskusi ilmiah seperti ini
bisa terus dilestarikan oleh warga nahdliyyin, khususnya yang saat ini sedang
menempuh studinya di negeri Yaman. Ia juga mengingatkan terkait prinsip yang
selama ini dipegang teguh oleh Nahdlatul Ulama’ selama ini, yaitu al-Muhafadzoh
‘ala al-Qadim as-Sholih wal-Akhdzu bil Jadid al-Ashlah.
“Yaitu melestarikan produk klasik yang masih
relevan, serta bersikap adoptif dan inklusif terhadap nilai-nilai modernitas yang positif,” ujar
mahasiswa berkumis asal Madura tersebut.
Rintis Diskusi Ilmiah Berbahasa Arab
Selain diskusi-diskusi ilmiah reguler yang rutin
berjalan, di periode ini PCINU Yaman juga akan merintis kajian ilmiah berbahasa
Arab. Dalam hal ini, Lakpesdam PCINU Yaman akan bekerjasama dengan organisasi
mahasiswa Yaman. Rabu 21 Mei 2014 M mendatang , Lakpesdam NU Yaman akan
menggelar diskusi Usul Fiqh dengan tajuk
“Tajdidul Fiqh wa Dlawabhituhu” (Pembaharuan Fikih dan
Batasan-Batasannya). Diskusi perdana berbahasa Arab ini akan digelar di
Sekretariat PCINU Yaman, di Kota Tarim, Propinsi Hadhramaut.
Reporter : Syifauddin Azka & Dzul
Fahmi

Posting Komentar Blogger Facebook